falsafah psht

Kumpulan Falsafah PSHT Lengkap dengan Sejarah Singkat

PSHT adalah singkatan dari Persaudaraan Setia Hati Terate, tidak lain merupakan salah satu nama organisaai pencak silat dengan perkembangan cukup pesat di Nusantara, bahkan hingga internasional. Selain memiliki slogan utama memayu hayuning bawana, kumpulan falsafah PSHT yang dimiliki jika diresapi maknanya sangatlah mendalam.

Sebenarnya falsafah PSHT adalah mutiara hikmah yang diambil dari ajaran luhur Jawa, maka bagi orang Jawa khususnya, kumpulan Falsafah PSHT yang dimiliki tidaklah asing. Bahasa yang digunakan dalam falsafah tersebut umumnya adalah bahasa Jawa dan Sansekerta.

Salah satu falsafah PSHT cukup populer misalnya, sepira gedhening sengsara yen tinampa amung dadi coba, yang memiliki arti “seberapapun besarnya kesengsaraan jika mampu menerimanya hanya akan jadi cobaan semata”. Falsafah atau semboyan PSHT umumnya memiliki makna bijak atau mutiara hikmah. Jadi meskipun hanya terdiri dari beberapa kata, akan tetapi makna yang terkandung dalam setiap falsafah PSHT sangatlah mengena.

Memaknai Falsafah PSHT yang Syarat Akan Makna

Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) merupakan salah satu organisasi pencak silat dengan perkembangan yang cukup pesat. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya massa yang bergabung di berbagai daerah di Indonesia dan beberapa di manca negara. Persaudaraan tersebut tentu diwadahi dengan adanya cabang di berbagai daerah yang dimaksud. Berikut sejarah PSHT singkat, makna lambang PSHT dan kumpulan falsafah PSHT.

Sejarah PSHT Singkat

Pencak silat dengan nama Setia Hati didirikan oleh Ki Ageng Ngabehi Soerodiwirjo yang populer dengan nama Ki Ageng Surodiwiryo. SH didirikan pada tahun 1903 di Kampung Tambak Gringsing, Surabaya. Pada tahun 1917, Ki Ageng Surodiwiryo pindah ke Madiun dan mendirikan Persaudaraan Setia Hati, yang awalnya gaya pencak silat Setia Hati dinamai djojo gendilo tjiptomuljo.

Karena awalnya pencak silat ini hanya diajarkan kepada kalangan tertentu atau yang bergelar bangsawan, akhirnya salah satu murid Ki Ageng Surodiwiryo yang bernama Ki Hadjar Hardjo Utomo atau Ki Hajar Harjo Utomo di  tahun 1922 meminta izin mendirikan pusat pendidikan pencak silat Setia Hati dan diizinkan oleh Ki Ageng Surodiwiryo. Terwujudlah ide tersebut dengan nama persaudaraan Setia Hati Pemuda Sport Club (SH-PSC).

Perjalanan tersebut tidak mudah, karena pemerintah kolonial Belanda menganggap pendirian pusat latihan tersebut sebagai sarana untuk melawan Belanda. Peristiwa tersebut berujung diasingkannya Ki Harjo Utomo ke Jember. Perubahan nama SH-PSC menjadi Persaudaraan Setia Hati Terate ( PSHT) sendiri dilakukan oleh salah satu murid Ki Hajar Utomo yang bernama Soeratno Sorengpati pada tahun 1948 dan disepakati oleh kongres pertama di Madiun.

Makna Lambang PSHT

falsafah psht

Berikut ini adalah keterangan atau makna yang termuat dalam logo PSHT, masing – masing bagian memiliki makna dan filosofi tersendiri, baik dari warna maupun simbol yang ada dalam logo PSHT.

Gambar Hati Bersinar. Arti lambang hati bersinar PSHT maksudnya seseorang yang mampu memberi kebaikan untuk orang-orang disekitarnya.

Hati Putih Bergaris Merah. Simbol ini memiliki makna cinta kasih ada batasnya.

Tongkat yang membujur lurus di bagian atas. Tongat membujur lurus di bagian atas ini memiliki makna bahwa sebelum malakukan segala hal maka harus di awali dengan niat yang baik dan lurus.

Persenjataan. Gambar beragam senjata yang ada tersebut melambangkan sebagai anggota PSHT harus mampu menjaga atau melindungi dirinya.

Pita putih dengan garis merah ditengah. Gambar pita dengan warna merah dan putih ini memiliki makna berani karena benar takut karena salah.

Terate. Bunga terate memiliki arti dapat hidup dimanapun dengan situasi dan kondisi apapun.

Tiga bunga pada terate. Tiga ukuran bungan dengan bentuk yang berbeda tersebut memiliki makna kuncup (miskin), setengah mekar (sederhana) dan mekar (kaya), artinya bahwa dalam ajaran PSHT tida membedakan status sosial siapapun orangnya.

Persaudaraan. Makna dari tulisan Persaudaraan adalah hubungan batin antara sesama manusia yang sifatnya sam atau bahkan melebihi dari saudara kandung sendiri.

Setia. Tulisan Setia memiliki makna jiwa yang tidak dapat dipisahkan dengan situasi dan kondisi apapun.

Hati. Hati segumpal darah yang menjadi pusat dari pikiran dan perbuatan manusia sehingga apabila hati itu baik maka semua akan menjadi baik dan apabila buruk maka semua akan menjadi buruk.

Setia Hati. Setia Hati adalah percaya pada diri sendiri berkiblat kepada Tuhan Yang Maha Esa serta yakin bahwa kekuatan tertinggi adalah pada Tuhan Yang Maha Esa.

Sinar Putih. Sinar putih memiliki arti bahwa berlakunya hukum timbal balik atau hukum karma.

Warna Dasar Hitam. Warna dasar hitam pada lambang PSHT melambangkan persaudaraan yang kekal abadi.

Warna Kuning. Warna kuning melambangkan kejayaan orang Setia Hati Terate

Bentuk Segi Empat ( Empat Kiblat Lima Pancer ). Bentuk segi empat memiliki makna bahwa dimanpun kita berada maka kita harus tetap se-Setia Hati

Kumpulan Falsafah PSHT lengkap dengan Artinya

Sepira gedhening sengsara yen tinampa amung dadi coba, yang berarti “seberapapun besarnya kesengsaraan jika mampu menerimanya hanya akan jadi cobaan semata”.

Ala tanpa rupa yen tumandhang amung sedhela, yang berarti “setiap rasa kesusahan, keburukan, serta masalah-masalah apabila dijalani dengan berlapang dada maka kemudian terasa sebentar saja”.

Tega larane, ora tego patine, yang memiliki makna “tega melihat sakitnya, tidak tega melihat matinya”. Yang mana maksudnya adalah warga psht berani menyakiti seseorang dalam rangka memperbaiki bukan merusak (membunuh).

Suro diro joyo diningrat lebur dening pangastuti, yang bermakna “segala kesempurnaan hidup dapat diluluhkan dengan budi pekerti luhur”.

Satria ingkang pilih tanding, yang memiliki arti “seorang ksatria mampu memilih lawan”. Maksudnya seseorang berjiwa ksatria hanya mau melawan orang yang mampu menghadapinya, bukan orang yang lemah daripadanya”.

Ngluruk tanpo bolo, menang tanpo ngasorake, sekti tanpa aji-aji, sugih tanpa bandha, yang berarti “mendatangi tanpa kawan, menang tanpa mengalahkan, sakti tanpa kesaktian dan kaya tanpa kekayaan”

Datan serik lamun ketaman, datan susah lamun kelangan, yang artinya “jangan sakit hati kala musibah menimpa, jangan susah kala kehilangan”.

Ojo seneng gawe susahe liyan, opo alane gawe seneng liyan, yang artinya “jangan suka menyusahkan orang lain, apa jeleknya membahagiakan orang lain”.

Ojo waton ngomong ning yen ngomong sing gawe waton, yang artinya “jangan hanya bisa bicara namun harus bisa membuktikan”

Ojo rumongso biso ning sing biso rumungso, yang artinya “jangan merasa bisa, namun juga harus bisa merasakan”.

Ngunduh wohing pakarthi, yang artinya “siapa yang berbuat pasti akan menerima hasil perbuatannya”.

Jer basuki mawa beya, yang artinya “segala kesuksesan membutuhkan pengorbanan”.

Budhi dayane manungso tan keno ngluwihi kodrate sing maha kuwoso yang berarti “segala daya upaya manusia tidak akan bisa melebihi ketentuan tuhan yang maha kuasa”.

Memayu hayuning bawana, ambrasta dur hangkara yang secara harfiah berarti “memperindah keindahan dunia serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak pada diri”.

Sepiro duwurmu ngudi kawruh, sepiro jeromu ngangsu ngilmu, sepiro akehe guru ngajimu tembe mburine mung arep ketemu marang sejatine awake dewe, yang berarti “seberapa tinggimu mencari pengetahuan, seberapa dalammu menuntut ilmu, seberapa banyak guru yang mengajarmu, tetap bergantung pada dirimu sendiri”.

Sopo sing wus biso nemoake sedulur batine kakang kawah adi ari-ari papat kiblat lima pancer, sejatine wus nemu guru sejatine.

Sekti tanpo aji digdoyo tanpo guru, yang berarti “sakti tanpa kesaktian, hebat tanpa guru”.

Kridhaning ati ora bisa mbedhah kuthaning pesthi, yang berarti “gejolak jiwa (seharusnya) tidak mengubah kepastian”.

Amemangun karyenak tyasing sesama, yang berarti “membuat nyaman perasaan orang lain”.

Sukeng tyas yen den hita, yang berarti “suka atau bersedia menerima nasihat”.

Aja adigang, adigung, adiguna, yang berarti “jangan sok kuasa, sok besar dan sok sakti”.

Aja milik barang kang melok, aja mangro mundak kendo, yang berarti “jangan tergoda kemewahan, jangan mudah mendua agar semangat tidak kendur”

Sing resik uripe bakal mulya, yang berarti “yang bersih hidupnya akan mulia”.

Aja kuminter mundak keblinger, aja cidra mundak cilaka, sing was-was tiwas, yang berarti “jangan sok pintar karena akan salah arah, jangan suka berbuat curang karena akan celaka, yang ragu-ragu akan binasa”.

Aja ketungkul marang kalungguhan, kadonyan lan kemareman, yang berarti “jangan terobsesi kedudukan, keduniawian dan kepuasan”.

Aja gumunan, aja getunan, aja kagetan, aja aleman, yang berarti “jangan mudah heran, jangaan mudah kecewa, jangan mudah kaget, jangan manja”.

Sepi ing pamrih rame ing gawe, banter tan mbancangi, dhuwur tan ngungkuli, yang berarti “bekerja dengan giat tanpa pamrih, cepat tanpa mendahului dan tinggi tanpa menandingi”.

Urip iku urup, yang secara harfiah artinya “hidup itu menghidupi”. Maksudnya dalam hidup harus bisa menjadi manfaat bagi orang lain.

Sak apik-apike wong yen aweh pitulung kanthi cara dedhemitan, yang berarti “sebaik-baiknya orang adalah memberi pertolongan dengan tanpa ingin diketahui orang lain”.

Demikian kumpulan falsafah PSHT yang penuh dengan makna. Dengan meresapi kata – kata bijak tersebut semoga pembaca semakin arif dan bijaksana dalam menyikapi kehidupan bersosial.

 

Leave a Comment

error: Content is protected !!