Mengetahui Sifat Wajib dan Mustahil Bagi Allah

Jika ada pertanyaan tentang apa saja sifat wajib Allah itu? Sebagai seorang muslim tentu harus bisa menjawabnya disertai sedikit penjelasan. Terlebih jika pertanyaan tersebut terlontar dari seorang anak yang masih polos, jawaban dari orang tua harus bisa memahamkan mereka. Karena pertanyaan semacam ini sangat berkaitan dengan aqidah.

Arti sifat wajib Allah adalah sifat yang harus ada pada Allah, apabila sifat-sifat tersebut tidak ada maka akal tidak bisa menerimanya. Misalnya Allah memiliki sifat wujud, secara naluri akal akan berfikiran wujud fisik Allah seperti apa, padahal sebagai makhluk tidak memiliki kemampuan tentang hal ini.

Maka daripada itu, sangat penting kiranya untuk mengetahui sifat wajib Allah yang berjumlah 20 sebagai sarana untuk meningkatkan keimanan. Untuk mempermudah menghafalnya, salah satu metode yang umum digunakan adalah mengucapkan lafadz tersebut dengan diiringi irama.

Sifat Wajib Allah dan Mustahil bagi Allah

Berikut ini penjelasan singkat sifat wajib bagi Allah yang berjumlah 20 serta sifat mustahil Allah. Semoga dengan mengetahui dan memahami dari sifat wajib yang dimiliki Allah ini semakin meningkatkan keimanan kita.

1. Wujud (Ada)

Sifat wajib Allah yang pertama adalah wujud, artinya ada. Meskipun keberadaanya tidak bisa dirasakan langsung dengan panca indera yang dimiliki makhluk-Nya, keberadaan Allah benar adanya dan wajib diyakini. Hal ini bisa dibuktikan dengan keberadaan alam semesta beserta seluruhnya isi yang merupakan ciptaan Allah.

Keberadaan Allah tidak ada yang menciptakan atau yang mengadakan, Allah ada dengan zat-Nya sendiri. Maka sebagai seorang muslim harus meyakini dengan benar tentang sifat wujud Allah, dengan demikian keimanan yang dimiliki akan semakin kuat karena bisa menyaksikan ciptaan Allah yang ada di alam semesta ini. Sedangkan sifat mustahil Allah adalah Adam yang berarti tidak ada.

Allah Berfirman “Dan Dialah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian pendengaran, penglihatan dan hati. Amat sedikitlah kamu bersyukur. Da Dialah yang menciptakan serta mengembangbiakkan kamu di bumi ini dan kepada-Nyalah kamu akan dihimpun. Dan Dialah yang menghidupkan dan mematikan dan Dialah yang mengatur pertukaran malam da siang. Maka apakah kamu tidak berfikir?” (QS.Al Muminun :78-80)

2. Qidam (Terdahulu atau Awal)

Keberadaan makhluk yang ada di alam semesta baik yang tirlihat maupun ghaib adalah ciptaan Allah. Hal ini tercermin dari sifat wajib Allah yakni qidam  dengan artinya terdahulu atau awal. Sifat ini yang menjadi pembeda dengan semua makhluk ciptaan Allah, karena keberadaan Allah tidak ada permulaannya. Adapun sidat mustahil Allah adalah huduts yang berarti baru.

Dengan tidak memiliki permulaan atau hal yang baru inilah sifat wajib bagi Allah sebagai yang awal dan yang menciptakan alam semesta beserta seluruh isinya. Sebagai seorang muslim maka sudah sepatutnya meyakini sifat Allah qidam dan tidak boleh meragukannya. Allah Berfirman “Dialah yang Awal dan yang Akhir, yang Zhahir dan yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu“  (QS. Al-Hadid :3)

3. Baqa’ (Kekal Abadi)

Berbeda dengan makhluk yang diciptakan memiliki masa tertentu, Allah bersifat kekal abadi tidak akan berakhir meski alam semesta ini akan mengalami kehancuran. Manusia, hewan, tumbuhan dan segala yang ada di alam semesta semuanya akan sirna dan manusia akan diminta pertanggungjawaban selama hidup di dunia. Sifat mustahilnya adalah Fana’ yang artinya rusak atau binasa.

Allah Berfirman “Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Rabb-mu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan“ (QS. Ar-Rahman :26-27). Sebagai makhluk yang paling sempurna dengan dikaruniai akal, maka harus meyakini akan keabadian Allah dengan seyakin-yakinnya serta memanfaatkan dengan baik semua fasilitas yang diberikan.

4. Mukhalafatu Lil Hawaditsi ( Berbeda dengan Ciptaan-Nya)

Jika iman kita lemah, tidak jarang kita akan mempertanyakan seperti apa wujud Allah sebenarnya. Meskipun, hanya terbesit dalam benak fikiran tentu ini membutuhkan jawaban. Maka dengan mengetahui sifat wajib Allah mukhalafatu lil hawadits semua akan terjawab.

Sifat wajib bagi Allah ini memiliki arti ‘berbeda dengan ciptaan-Nya’, sehingga tidaka da makhluk dari jenis apapun yang menyamai wujud Allah. Sehingga tidak ada yang layak dibandingkan dengan Kebesaran, Keagungan serta Kemuliaan Allah. Allah Berfirman “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat“ (QS. Asy-Syura :11). Sedangkan sifat mustahil Allah adalah mumasalatu lil hawadisi yang berarti serupa dengan makhluk ciptaan-Nya.

5. Qiyamuhu Linafsihi (Berdiri Sendiri)

Sifat wajin Allah qiyamuhu linafsihi ini memiliki arti berdiri sendiri. Artinya Allah tidak membutuhkan pertolongan, bantuan ataupun ketergantungan lain dengan yang lain. Tentu sifat ini sangat berbeda dengan sifat yang dimiliki makhluk ciptaan-Nya yang selalu membutuhkan satu sama lain. Adapun sidat mustahil-Nya adalah ihtiyaju lighairi yang berarti membutuhkan bantuan yang lain.

Allah berfirman “Allah tidak ada Tuhan selain Dia. Yang hidup kekal lagi senantiasa berdiri sendiri.” (QS Ali Imran:2). Dengan meyakini sifat Allah ini sudah sepatutnya sebagai makhluk semakin meningkatkan keimanan dan bertambah sadar bahwa dalam menjalani kehidupan selalu bergantung terutama kepada Allah, sehingga tidak semena-mena dalam bertindak.

4. Wahdaniyah (Esa atau Tunggal)

Sebagai umat Islam, meyakini bahwa Allah Maha Esa merupakan prinsip utama dalam beragama. Maka pertama kali yang menjadi syarat seseorang dikatakan telah beragama Islam atau bukan dengan mengucapkan dua kalimat syahadat, yang maknanya meyakini bahwa Allah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah dan Nabi Muhammad adalah rasul dan utusan-Nya.

Sedangkan sifat mustahil-Nya adalah ta’adud yang berarti lebih dari satu. Allah Berfirman ”Katakanlah (Muhammad ). Dialah Tuhan Yang Maha Esa . Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada_Nya segala sesuatu . dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (QS Al Ikhlas :1-4)

5. Qudrat (Berkuasa)

Segala yang ada di alam semesta beserta isinya mutlak atas kekuasaan Allah. Tidak ada yang membatasi dan tidak ada batasannya. Sedangkan manusia, yang merupakan salah satu makhluk paling sempurna pun terdapat batasan dan yang membatasi, semua atas kehendak Allah.

Untuk sifat mustahil Allah dalam hal ini adalah ‘ajzu yang berarti lemah. Tidak mungkin Allah bersifat lemah, jika berkehendak maka tidak ada yang bisa menghalangi dari ketentuan Allah. Allah berfirman “Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu“ (QS. Al-Baqarah :20). Maka dengan meyakini sifat wajib Allah qudrat ini semakin sadar diri bahwa tidak layak bersikap sombong dan sifat tercela lainnya.

Baca juga yuk!

6. Iradat (Berkehendak)

Alam semesta dan seluruh isinya diciptakan atas kehendak Allah tanpa ada campur tangan ataupun paksaan. Dengan penciptaan yang sempurna ini tentu Allah mempunyai maksud yang tidak diketahui oleh makhluk ciptaan-Nya. Setiap yang dikehendaki Allah pasti terjadi, dan begitu juga sebaliknya. Adapun sifat mustahil Allah adalah karanah yang berarti terpaksa.

Allah berfirman “Sesungguhnya perintah-Nya apabila dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya:”Jadilah”maka terjadilah” (QS. Yasin : 82). Dengan meneladai sifat wajib Allah ini sepatutnya dalam menjalani kehidupan di dunia senantiasa yakin atas semua yang terjadi adalah atas kehedak-Nya.

7. ‘Ilmun (Mengetahui)

Sifat wajid Allah ilmu memiliki arti mengetahui, maksudnya adalah Allah mengetahui segala sesuatu dengan sempurna. Sifat mengetahui ini tidak terbatas dan tidak dibatasi oleh apapun. Selain itu Allah juga mengetahui baik yang nampak maupun yang tidak nampak. Adapun sifat mustahil Allah adalah jahlun yang berarti bodoh.

Allah berfirman ”…Allah SWT mengetahui apa yang ada dilangit dan apa yang ada di bumi dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS Al Hujurat : 16). Dengan meneladani sifat wajib-Nya ini, sebagai makhluk yang terbatas kemampuannya agar sentiasa bersyukur dan memuji Keagungan Allah. Serta mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari menuntut ilmu dengan sebaik-baiknya.

10. Hayat (Hidup)

Hayat artinya adalah hidup, maksudnya Allah itu hidup namun tidak ada yang menghidupkan-Nya. Kehidupan Allah tercipta dengan dzat-Nya sendiri. Berbeda dengan makhluk ciptaan Allah yang kehidupannya berada di tangan Allah. Adapun sifat mustahil Allah adalah mautun yang berarti mati.

Allah berfirman ”Allah tidak ada Tuhan melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya, tidak mengantuk dan tidak tidur” (QS Al Baqarah : 255). Dengan meneladani sifat wajib Allah hayat maka manusia harus bisa memanfaatkan dengan baik kehidupan yang sementara ini. Terlebih sebagai seorang muslim yang memiliki kewajiban, harus sebisa mungkin untuk mengutamakannya.

11. Sam’un (Mendengar)

Semua yang ada di alam semesta baik yang nampak maupun ghoib tidak luput dari pendengaran Allah. Sifat wajib Allah sam’un yang memiliki arti mendengar, dan pendengaran Allah tidak terbatas seperti halnya yang dimiliki makhluk ciptaan Allah, bahkan seperti suara bisikan hati manusiapun tidak luput dari pendengaran-Nya. Sifat mustahil-Nya adalah summun yang berarti tuli.

Firman Allah dalam Al-Qur’an ”Dan Allah-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS Al Maidah : 76). Maka dengan mengetahui sifat wajib Allah sam’un, manusia harus selalu berhati-hati dalam setiap ucapan ataupun tindakannya. Sebisa mungkin setiap perkataan ataupun perbuatan yang dikerjakan tidak merugikan diri sendiri terlebih orang lain.

12. Basar (Melihat)

Allah bersifat basar yang berarti melihat. Allah melihat segala sesuatu yang ada di alam semesta tanpa dibatasi jarak, baik jauh atau dekat, tipis maupun tebal. Bahkan yang tidak nampak oleh pandangan manusia pun tidak luput dari penglihatan Allah. Sedangkan sifat mustahil Allah adalah ‘umyun yang memiliki arti buta.

Firman Allah dalam Al-Qur’an ”… Dan Allah maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Al-Baqarah: 265). Dengan meneladani sifat wajib Allah basar, maka manusia harus berhati-hati dalam setiap yang dikerjakan, karena setiap gerak-gerik sedetail apapun tidak luput dari penglihatan Allah. Dengan begitu saat akan mengerjakan tindakan tidak terpuji, maka akan mengingat Allah bahwa dirinya dalam pengawasan Allah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

13. Kalam (Berbicara atau berfirman)

Allah memiliki sifat berbicara, bukti tersebut terwujud dalam kitab-kitab yang diturunkan kepada nabi dan rasul. Berbeda dengan makhluk ciptaan Allah, maka sifat berbicara ini sangatlah berbeda dengan berbicara makhluk yang menggunakan panca indera. Dzat Allah tidak berorgan layaknya seperti makhluk ciptaan-Nya. Sifat mustahil Allah adalah bukmun yang berarti bisu.

Allah berfirman ”… Dan Allah berkata kepada Musa dengan satu perkataan yang jelas” (QS An-Nisa’  : 164). Sebagai sikap meneladai sifat wajib Allah kalam, sudah sebaiknya dalam kehidupan sehari-hari menggunakan lisan dengan baik dan yang mendatangkan manfaat. Selain itu memperbanyak berdzikir atas Kebesaran Allah dan senantiasa beristighfar saat lisa berbuat salah.

14. Qadiran (Berkuasa)

Sifat wajib Allah qadiran artinya Allah berkuasa atas segala sesuatu. Keberadaan dan ketiadaan makhluk mutlak berada dalam kekuasaan Allah. Semua yang ada di alam semesta berada dalam kekuasaan Allah. Sifat mustahil Allah adalah ‘ajizan yang berarti lemah.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an “…Sesungguhnya Alllah berkuasa atas segala sesuatu“ (QS. Al Baqarah :20). Dengan mengetahui dan meneladani sifat wajib Allah ini, maka  sebagai makhluk yang lemah tidak seharusnya bersifat sombong walau sekecil apapun. Mengingat semua yang dititipkan kepada manusia itu tidak ada apa-apanya dibanding dengan kekuasaan Allah.

15. Muridan (Berkehendak)

Sifat wajib Allah muridan atau berkehendak ini memiliki makna bahwa setiap yang ada di alam semesta ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Semua sudah menjadi kehendak Allah, jika Allah sudah berkehendak maka tidak ada yang bisa menghalanginya. Sedangkan sifat mustahil Allah adalah karihan yang berarti terpaksa.

Allah berfirman “…Sesungguhnya Tuhanmu Maha Melaksanakan apa yang Dia kehendaki“ (QS. Hud : 107). Sebagai manusia yang berada dalam kehendak Allah, maka sudah sepatutnya untuk tetap berada di jalan yang benar. Manusia harus sadar bahwa setiap perbuatan yang dikerjakan akan dimintai pembalasan.

16. ‘Aliman (Mengetahui)

Allah mengetahui segala sesuatu yang ada di alam semesta tanpa ada yang terhalangi. Pengetahuan Allah tidak terbatas dan tidak ada yang membatasi seperti halnya yang dimiliki makhluk ciptaan Allah. Bahkan Allah telah mengetahui segala sesuatu yang sudah terjadi maupun belum terjadi. Sifat mustahil Allah adalah jahilan dengan arti bodoh.

Firman Allah dalam Al-Qur’an “…Dan Alllah Maha Mengetahui sesuatu“ (QS. An Nisa’ :176). Dengan meneladai sifat wajib Allah ‘aliman sudah sepatutnya manusia tidak menyombongkan diri atas kemampuan atau kelebihan yang dimiliki. Selain itu, salah satu wujud mengimplementasikannya adalah menuntut ilmu dunia dan akhirat untuk tujuan yang baik.

17. Hayyun (Hidup)

Hakiat dari sifat hayyun  bahwa Allah itu hidup dan kehidupan Allah bersifat abadi. Kehiudupan Allah ada atas zat-Nya sendiri, tidak ada yang mengadakan dan tidak  ada yang mengakhirkan. Berbeda dengan makhluk ciptaannya yang memiliki hidup terbatas dan pada masa yang sudah ditentukan akan berakhir. Sifat mustahil Allah adalah mayyitan yang berarti zat yang mati.

Firman Allah dalam Al-Qur’an “Dan bertakwalah kepada Allah yang hidup kekal dan yang tidak mati“ (QS. Al Furqon :58). Wujud meneladani sifat ini adalah mempergunakan kehidupan di dunia dengan sebaik-baiknya, senantiasa menjalankan perintah Allah serta menjahui segala yang dilarang. Karena setiap perbuatan baik ataupun buruk akan mendapatkan balasannya.

18. Sami’un (Mendengar)

Allah mendengar segala sesuatu yang ada di alam semesta baik yang berwujud maupun tidak. Pendengaran Allah tidak ada batasan dan tidak ada yang bisa membatasi. Semua yang ada di alam semesta tidak luput dari pendengaran Allah. Sifat mustahil-Nya adalah asshama yang memiliki arti tuli.

Alah berfirman “…Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui“ (QS. Al Baqoroh :256). Salah satu wujud meneladani sifat sami’un adalah selalu berbicara yang baik dan tidak merugikan orang lain. Karena setiap perkataan yang keluar dari lisan manusia tidak luput dari pendengaran Allah, dan semua akan mendapatkan balasan yang setimpal.

19. Bashiran (Melihat)

Allah melihat segala sesuatu baik yang nampak maupun tidak. Begitu juga penglihatan Allah tidak ada batasan dan tidak ada yang membatasi. Semua tidak luput akan pengawasan dan penglihatan Allah. Sedangkan sifat mustahil Allah adalah ‘ama yang berarti buta.

Firman Allah dalam Al-Qur’an “…Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan“ (QS. Al Hujurat : 18). Karena setiap yang dikerjakan oleh manusia berada dalam pantauan Allah, maka sudah sebaiknya setiap akan berbuat tidak baik selalu mengingat bahwa apa yang dikerjakan tidak luput dari penglihatan Allah dan semua akan mendapat balasan setimpal.

20. Mutakalliman (Berkata-kata atau Berfirman)

Allah memiliki sifat berkata-kata atau berfirman. Hal ini bisa dibuktikan dengan mengimani adanya kitab-kitab yang diturunkan kepada nabi dan rosul. Karena kitab tersebut merupakan perkataan Allah atau firman-Nya. Sifat mustahil Allah adalah abkama yang berarti bisu.

Allah berfirman ”… Dan Allah berkata kepada Musa dengan satu perkataan yang jelas” (QS An-Nisa’  : 164). Cara meneladani sifat ini adalah meyakini keberadaan kitab-kitab Allah yang ada. Sebagai muslim yang memiliki pegangan hidup Al-Qur’an, maka sebisa mungkin untuk membaca dan mengamalkan isinya untuk panduan hidup di dunia dan akhirat.

Demikian penjelasan singkat tentang 20 sifat wajib Allah beserta sifat mustahil-Nya. Dengan mengetahui dan meneladani sifat tersebut akan semakin meningkatkan ketakwaan kepada Allah.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *